“Kaaaaak…banguuuun…”,,lengkingan Ibu terdengar sayup-sayup di telingaku. Ada apa sih? Orang masih mengantuk kok dibangunkan segala?
“Iya..”, kujawab lengkingan Ibu dengan lemah. Huaaa..susahnya mata ini untuk terbuka,,berat sekali rasanya. Gara-gara begadang semalaman kali ya, di dalam tidurku masih sempat diriku berpikir.
Semenit...Dua menit..Tiga menit...
”Kaaaaak....banguuuun...”, terdengar lagi lengkingan Ibuku, dirinya sadar, anaknya masih terbuai di alam mimpi.
”Huah..Iyaaaa..”, suaraku terdengar lebih kencang, tetapi mataku tetap terkatup.
Malasnya bangun pagi-pagi, kalau bukan karena hari ini sekolah diriku pasti sudah melanjutkan mimpi daritadi. Dengan mata masih tertutup aku duduk di atas kasur, meregangkan tangan dan kaki, lalu melangkah gontai keluar kamar.
Byuurrr...sayup-sayup terdengar suara air yang berasal dari kamar mandi. Berarti adikku masih mandi. Sambil menunggu, diriku merebahkan diri diatas sofa, ikut menonton acara yang sedang ditonton Ibuku. Mamah dan Aa’, sebuah acara ceramah pagi di Indosiar.
Topik yang dibahas di acara tersebut cukup menarik, tentang Kriteria mencari Pasangan Hidup. Mataku terpaku pada acara tersebut, padahal masih diserang kantuk yang luar biasa.
Aku terus menatap ke benda kotak yang bersuara itu, mendengarkan dengan serius kandungan yang terdapat pada acara tersebut. Tiba-tiba, salah satu yang berceramah mengeluarkan sebuah kalimat yang cukup membuat hatiku tersambar...
”Kalo nyari suami, harus liat dulu kitanya bagaimana, kalo mau dapet suami yang shaleh, kitanya juga harus shalihah, kalo mau dapet suami yang tampan, kitanya juga kudu bisa mengimbangi, Jangan kalo kita sendiri tampangnya 6,2 masa mau dapet suami yang tampangnya 9? ya seenggaknya nyari yang 6 kek...”
Sakit...mendengarnya hatiku sungguh sakit, sungguh keterlaluan sekali yang berceramah, dengan kesal aku beranjak dari sofa dan bersegera menuju kamar mandi.
Apa maksudnya ia berkata seperti itu? 6,2? Mengapa tampang manusia dinilai-nilai begitu?sungguh keterlaluan! Hanya Allah yang boleh menilai manusia. Kalau soal keimanan sih aku memang bisa menerima, toh Allah juga berfirman demikian dalam Al-Quran, tapi mengapa tampang? Sungguh menyakitkan kata-katanya itu! Diriku mengomel sendiri dalam hati.
Diriku berkaca di depan cermin, dan berpikir...
Bagi penceramah itu tampangku ini akan dinilainya berapa? Memangnya siapa dia? Merasa hebat bisa menilai tampang manusia, Allah kan sudah menciptakan bentuk manusia dengan sebaik-baiknya, dan dengan gampangnya dia menilai-nilai, berasa dirinya baik apa?
Sungguh kesal hati ini, kesal, teramat kesal. Juga menyesal. Mengapa aku harus mendengarkan ceramah itu. Bodohnya!
Kecemasan menyergapku. Melilitku dan memaksa diriku untuk berlutut padanya.
Tampangku ini biasa saja, apa akan ada yang mau denganku?
Pertanyaan itu terngiang-ngiang bersahut-sahutan didalam hati. Bergaung menggetarkan nurani. Membuatku terus cemas, dibalut ketakutan.
***
Keesokkan harinya, diriku pergi keluar kota bersama keluargaku. Menuju rumah nenek, Ibu dari ayahku.
Selama berada di kota itu, diriku banyak melihat banyak pasangan muda bertebaran di setiap sudut kota itu. Maklum, kota besar. Diriku mencocokkan pendapat si penceramah itu dengan kenyataan yang kulihat sekarang. Ah, pendapat si penceramah itu tidak sepenuhnya benar, banyak pasangan yang terlihat amat kontras. Tapi dimataku mereka semua tampak sama, manusia memang sama, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Diriku merasa mulai tenang. Toh jodoh ditangan Allah, pikirku optimis.
Sebelum pulang, nenekku berkata lembut sambil tersenyum...
”Cucu nenek sudah besar ya, nenek baru sadar kalo nenek punya cucu secantik ini...”
Sontak semuanya yang sedang berkumpul tertawa, Ayah langsung menyahut bangga..
”Iya dong! Bener kan ya Nek, kakak tuh emang cantik..”, nyengir Ayah terlihat lebar dari sudut mataku.
Buk! Tinjuan melayang di punggung ayahku. Memang sudah biasa seperti itu, aku dan ayahku akrab selayaknya teman. Diriku paling kesal dipuji begitu, apalagi oleh ayah, makanya diriku melayangkan tinjuan itu tanpa ampun.
“Yeee dipuji kok gak mau!”, Ayah menggoda.
“Cieee..yang udah cantik mah beda..”, Adikku ikut membuatku panas.
“Iiiih..naon!! geleuuuuh...”, aku berteriak kesal.
Ya, setidaknya mereka berkata seperti itu karena mereka keluargaku, tidak mungkin mereka berkata “Kamu jelek!”, walaupun memang begitulah kenyataannya.
***
Setiap bertemu akhwat berjilbab, diriku selalu berucap dalam hati..
“Subhanallah..cantiknya..”
Diriku selalu minder bila bertemu akhwat berjilbab. Ya, apalagi yang memang bisa dibilang cantik.
Aku bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan mereka itu. Keimanan dan penampilan jelas kontras terlihat. Tak jarang mata ini berkaca jika mengingat ucapan penceramah itu.
Kalo mau dapat suami yang tampan, kita juga harus bisa mengimbangi...
Aah,,siapa pula yang meminta untuk dilahirkan dengan fisik yang buruk, tidak ada, fisik yang Allah berikan sekarang ini sudah sebaik-baiknya, bukan keinginan kita.
Lupakan ucapan orang itu! Lupakan!
Masih berkecamuk hati ini.
Bisakah ikhlas menerima?
(No Name)
Kalo yang ini aku yang ketik :
Hha...gak jelas bangedh tuh tulisan di atas...kagak jelas sapa yang ngarang...
Hmm...tapi kandungan di dalam cerita di atas memang yang lagi aku cemaskan bangedh..bangedh..bangedh...
Hmm..kalo dipikir2 tega juga ya tuh di yang ceramah bilang begitu,,bikin kita2 yang bertampang biasa cemas ajeh..huuuu...
Tenang ajalah..masalah jodoh mah in Allah’s Hand..hha..maksudnya ditangan Allah...apa hak kita menentukan kalo yang tampan cocok ama yang cantik, begitupun sebaliknya?
Lagian tenang ajaaaaaaa,, masalah jodoh dah Allah tetapkan jauh sebelum kita lahir,,jadi tinggal tunggu tanggal maennya ajeh! :)
Tak ada yang mustahil di dunia ini..
Jika kita beriman..dan bertakwa...
(Raihan-Ashabul Kahfi)
So,,smile...keep spirit...Don’t worry be happy....
^__________^
Di kamar abang,,sambil makan oreo…100208,,1609 pm…
Akhwat Cantik dan Ikhwan Tampan masih menunggu… :P